Desain adalah sebuah profesi. Menurut saya, suatu perbuatan disebut profesi manakala proses dan hasil dari perbuatan tersebut memiliki nilai atau value yang layak untuk dihargai dalam bentuk biaya (rupiah). Seperti layaknya seorang dokter yang memeriksa pasien, kemudian dia melakukan analisa dari gejala dan keluhan yang dialami si pasien, sampai akhirnya si dokter memutuskan bahwa si pasien sakit A dan harus diobati dengan obat B dan C dan akhirnya si pasien sembuh. Atau contoh lain, profesi seorang notaris yang membantu membuatkan surat perjanjian jual beli, seorang manager artis yang mengatur jadwal show clientnya, seorang koki yang memasak sesuai menu pesanan, polantas yang mengatur lalu lintas dll semuanya melakukan perbuatan yang memiliki nilai dan ada biaya yang diberikan sebagai wujud penghargaan terhadap profesi tersebut.
Desainer juga seperti itu. Ketika ada client yang meminta suatu jasa desain, desainer terlebih dahulu mengumpulkan data-data keinginan dari si client. Kemudian melakukan analisa dan membuat konsep dan implementasi dari desain tsb. Sampai akhirnya menjadi sebuah karya desain, dan sang client bisa menggunakan desain tersebut.
Sebagai sebuah profesi, desain tidak boleh menjadi gratis. Tetap harus ada harga yang harus dibayar untuk proses kreatif si desainer. Harga yang wajar sesuai dengan skala desain yang diminta sang client. Jangan seperti isi sebuah spanduk advertising yang memelesetkan salah satu cabang desain yakni "desain grafis" menjadi "desain gratis". Terlepas dari apakah itu cuma slogan marketing atau benar-benar gratis, menurut saya tidak etis jika suatu profesi digratiskan...
HujanRejeki
Berhujan-hujanan dalam rejeki dan nikmat karunia-Nya
Jumat, 12 Agustus 2011
Cita rasa Desain
Desain. Sudah lama sekali tidak membahas tentang masalah desain. Lingkungan memang sangat mempengaruhi apa yang kita dapatkan. Pada masa kuliah tiap hari selalu berkutat tentang desain. Baik itu tugas, buku bacaan, ketemu teman kuliah satu jurusan, ketemu dosen desain dll. Bahkan obrolan di kantin pun tak lepas dari urusan desain. Tidak heran bila masalah desain boleh dibilang sudah „nglonthok“, begitu kata orang Jawa.
Tetapi saat ini, hal itu sudah mulai berubah. Teori desain sudah berubah wujud menjadi suatu pengalaman rasa tentang desain. Dunia kerja tidak mengajarkan tentang teori desain. Dunia kerja membuat teori dan landasan pengertian desain yang didapat semasa kuliah semakin diasah lagi. Boleh juga dikatakan : dimatangkan lagi. Matang nya sampai kapan juga tidak bisa diberi ukuran jangka waktu tertentu. Karena proses pematangan ini seperti proses belajar, sampai tua pun proses p\itu tetap berjalan. Disini memang ada semacam proses lagi yang saya sebut sebagai peningkatan “pengalaman cita rasa desain”. Cita rasa akan semakin terasah ketika bertemu dengan banyak orang, banyak keinginan, banyak saran dan kritikan. Semakin lama kita akan semakin faham tentang desain, bukan melalui teori melainkan melalui pengalaman yang kita rasakan langsung. Cita rasa desain tidak dapat diajarkan tetapi harus dirasakan sendiri oleh desainer. Kembal lagi lingkungan sangat berpengaruh. Lingkungan dengan cita rasa tinggi tentunya akan membuat cita rasa desainer menjadi tinggi pula. Hal ini tentunya dengan catatan bahwa si desainer benar-benar membuka mata, hati dan telinga tentang lingkungan sekitarnya.
Cita rasa menentukan tinggi rendahnya selera seorang desainer. Cita rasa adalah sebuah pengalaman mistis-metafisis-, tidak bisa diukur, diformulakan dan didefinisikan dalam wujud, kata-kata dan rumus-rumus tertentu tetapi bisa dilihat dan diamati dari karya-karya yang dihasilkan. Pada umumnya tinggi rendahnya cita rasa berbanding lurus dengan pengalaman hidup si desainer. Semakin lama dia ditempa oleh berbagai tantangan desain semakin tinggi cita rasanya. Semakin tinggi cita rasa semakin fleksibel seorang desainer dalam membuat karya desain maupun memberikan suatu apresasi tentang karya desain.
Senin, 11 Juli 2011
Indonesia surga produsen otomotif dunia
Berita copas dari liputan 6.com. Peluang besar buat para designer otomotif Indonesia?? Kita lihat perkembangannya nanti..
Sejumlah produsen mobil dari Asia, seperti Jepang, Korea dan India mulai bersiap untuk berebut pasar otomotif di Indonesia yang dinilai masih menjanjikan. Mereka menambah investasi untuk menggandakan produksi dan merelokasi pabriknya ke Indonesia.
Suzuki adalah produsen teranyar yang menyatakan komitmennya untuk menambah jumlah investai hingga 80 miliar yen, untuk membangun pabrik baru dan melipatgandakan kapasitas produksi.
Sebelumnya, Nissan, berencana melipatgandakan produksi tahunan di pabriknya di Cikampek, Jawa Barat menjadi 100 ribu unit per tahun September nanti. Ini lebih cepat dari rencana semula pada 2012. Produsen yang juga asal Jepang, juga akan menambah jumlah outletnya pada akhir tahun ini menjadi 52 outlet dari jumlah Maret lalu sebanyak 46 outlet.
Sementara Daihatsu telah mengumumkan pembangunan fasilitas pusat riset dan pengembangan di dekat kawasan pabriknya di Jakarta, yang diharapkan bisa beroperasi pada akhir 2012.
Daihatsu telah merencanakan pengalihan pekerjaan desain atau desain ulang mobil baru dari Jepang yang akan diproduksi di Indonesia. Relokasi ini dimaksudkan agar Daihatsu bisa memproduksi kendaraan yang lebih sesuai dengan tuntutan pasar setempat.
Toyota tak mau ketinggalan. Meski sudah menguasai pasar, Toyota juga sudah memantapkan rencana untuk menanamkan investasi baru senilai 16,5 miliar yen di pabriknya di Karawang. Dana investasi ini akan dialokasikan untuk membantu PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) menaikkan kapasitas produksinya dari 100 ribu unit menjadi 140 ribu unit mobil pada 2013 nanti.
Toyota juga berencana menambah produksi model baru hanya di pabriknya di Indonesia dan merekrut karyawan baru untuk mendukung proses produksi tersebut. Juni 2010 lalu, Toyota juga merelokasi produksi SUV Fortuner dari pabriknya di Samrong, Thailand ke Karawang, Agustus 2010, menyusul krisis politik yang melanda negeri gajah putih itu.
Produsen mobil dari Korea, Hyundai juga telah merencanakan pembangunan pabrik baru di Indonesia pada 2013, untuk mengantisipasi lonjakan permintaan di pasar Indonesia. Meski, masih belum ada penjelasan rinci tentang berapa nilai investasi yang akan ditanamkan.
Hyundai telah menjual sekitar 3.700 unit mobil di Indonesia pada 2010, dan berharap bisa meraih angka penjualan hingga 8.000 unit tahun ini. Saat ini Hyundai telah memiliki pabrik perakitan secara completely knocked-down (CKD) di sekitar Jakarta, yang memproduksi Atoz, Ascent, dan Trajet.
Sementara produsen dari India, Maruti Suzuki dan Tata, tampaknya juga sudah berancang-ancang untuk merebut pasar Indonesia, sambil menunggu momentum free-trade agreement (FTA) yang sudah ditandangani diantara negera-negara ASEAN Agustus 2009 lalu. FTA secara bertahap akan memangkas pajak impor hingga 2016.
Indonesia memang masih menjadi pasar otomotif yang menjanjikan. Ketua III Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Johnny Darmawan, beberapa waktu lalu menyampaikan perkiraan angka penjualan 2011 antara 750.000 unit sampai 800.000 unit. (ihs.com/MLA)
Sejumlah produsen mobil dari Asia, seperti Jepang, Korea dan India mulai bersiap untuk berebut pasar otomotif di Indonesia yang dinilai masih menjanjikan. Mereka menambah investasi untuk menggandakan produksi dan merelokasi pabriknya ke Indonesia.
Suzuki adalah produsen teranyar yang menyatakan komitmennya untuk menambah jumlah investai hingga 80 miliar yen, untuk membangun pabrik baru dan melipatgandakan kapasitas produksi.
Sebelumnya, Nissan, berencana melipatgandakan produksi tahunan di pabriknya di Cikampek, Jawa Barat menjadi 100 ribu unit per tahun September nanti. Ini lebih cepat dari rencana semula pada 2012. Produsen yang juga asal Jepang, juga akan menambah jumlah outletnya pada akhir tahun ini menjadi 52 outlet dari jumlah Maret lalu sebanyak 46 outlet.
Sementara Daihatsu telah mengumumkan pembangunan fasilitas pusat riset dan pengembangan di dekat kawasan pabriknya di Jakarta, yang diharapkan bisa beroperasi pada akhir 2012.
Daihatsu telah merencanakan pengalihan pekerjaan desain atau desain ulang mobil baru dari Jepang yang akan diproduksi di Indonesia. Relokasi ini dimaksudkan agar Daihatsu bisa memproduksi kendaraan yang lebih sesuai dengan tuntutan pasar setempat.
Toyota tak mau ketinggalan. Meski sudah menguasai pasar, Toyota juga sudah memantapkan rencana untuk menanamkan investasi baru senilai 16,5 miliar yen di pabriknya di Karawang. Dana investasi ini akan dialokasikan untuk membantu PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) menaikkan kapasitas produksinya dari 100 ribu unit menjadi 140 ribu unit mobil pada 2013 nanti.
Toyota juga berencana menambah produksi model baru hanya di pabriknya di Indonesia dan merekrut karyawan baru untuk mendukung proses produksi tersebut. Juni 2010 lalu, Toyota juga merelokasi produksi SUV Fortuner dari pabriknya di Samrong, Thailand ke Karawang, Agustus 2010, menyusul krisis politik yang melanda negeri gajah putih itu.
Produsen mobil dari Korea, Hyundai juga telah merencanakan pembangunan pabrik baru di Indonesia pada 2013, untuk mengantisipasi lonjakan permintaan di pasar Indonesia. Meski, masih belum ada penjelasan rinci tentang berapa nilai investasi yang akan ditanamkan.
Hyundai telah menjual sekitar 3.700 unit mobil di Indonesia pada 2010, dan berharap bisa meraih angka penjualan hingga 8.000 unit tahun ini. Saat ini Hyundai telah memiliki pabrik perakitan secara completely knocked-down (CKD) di sekitar Jakarta, yang memproduksi Atoz, Ascent, dan Trajet.
Sementara produsen dari India, Maruti Suzuki dan Tata, tampaknya juga sudah berancang-ancang untuk merebut pasar Indonesia, sambil menunggu momentum free-trade agreement (FTA) yang sudah ditandangani diantara negera-negara ASEAN Agustus 2009 lalu. FTA secara bertahap akan memangkas pajak impor hingga 2016.
Indonesia memang masih menjadi pasar otomotif yang menjanjikan. Ketua III Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Johnny Darmawan, beberapa waktu lalu menyampaikan perkiraan angka penjualan 2011 antara 750.000 unit sampai 800.000 unit. (ihs.com/MLA)
Langganan:
Postingan (Atom)