HujanRejeki

Berhujan-hujanan dalam rejeki dan nikmat karunia-Nya

Rabu, 14 Desember 2011

Duh, apalagi yang terjadi dengan sepak bola kita?

Duh, apalagi yang terjadi dengan sepak bola kita. Ada 2 liga yang sama-sama bergulir. ISL yang dihuni tim-tim besar tapi tak direstui PSSI, satunya lagi IPL direstui PSSI tapi pesertanya terus menyusut karena ditinggal ke ISL. Ini apa yang terjadi? Masing-masing pihak punya dasar hukum sendiri, tidak ada yang mau mengalah. Ujung-ujungnya korbannya adalah pemain.
PSSI mengeluarkan pernyataan bahwa pemain yang berlaga di  kompetisi di luar PSSI tidak akan dipanggil ke Timnas. Para pemain dibawah Asosiasi Pemain pun menilai aturan PSSI tersebut salah alamat karena masalah intinya adalah PSSI dengan Klub, bukan PSSI dengan pemain. Pemain adalah profesional, mereka bermain di bawah panji klub yang mengontrak mereka, tidak ikut campur dengan keputusan klub yang akan bermain di kompetisi yang mana. Tugas mereka hanyalah bermain, itu saja. Dan masalah pun sepertinya akan semakin ruwet.. Apalagi beberapa klub juga mengusulkan untuk diadakan KLB...
Memang sudah sebegitu parahkah hati nurani para petinggi PSSI, petinggi Klub, petinggi-petinggi sepakbola kita? Sepertinya yang terjadi adalah kepentingan segelintir golongan yang dipaksakan. Hasilnya tentunya adalah ketidakadilan. Ketidakadilan membuat kompetisi menjadi terpecah, klub-klub meradang, pemain akhirnya yang jadi korban. Harus ada kebesaran hati, sikap legawa dari seluruh pihak yang berkonflik untuk tidak membiarkan hal ini berlarut-larut. Ketua PSSI sebagai orang yang dipercaya mengurus PSSI harusnya tampil terdepan untuk mencari solusi terbaik. Organisasi yang Anda pimpin sedang sakit berat. Obat yang Anda berikan dengan memberikan sanksi pada pemain non IPL malah bikin runyam. Sudahlah lupakan ego, gengsi dan keangkuhan. Buang jauh-jauh. Kepentingan bangsa lebih utama dan mendesak. Jangan kecewakan asa 230 juta rakyat Indonesia yang sangat ingin sekali melihat prestasi terbaik timnasnya.  Dan juga jangan korbankan pemain profesional kita, mereka adalah tulang punggung timnas. Kebesaran hati Anda-Anda semua akan dicatat oleh tinta emas sejarah kita. Sikap legawa Anda-Anda semua akan membuat rakyat Indonesia lega dan bahagia.
Setiap masalah pasti ada solusinya. Nah, masalahnya Mau atau Tidak? Mau atau tidak mereka membuang kepentingan segelintir demi kepentingan bersama?

Jumat, 12 Agustus 2011

Desain Grafis, bukan Desain Gratis..

Desain adalah sebuah profesi. Menurut saya, suatu perbuatan disebut profesi manakala proses dan hasil dari perbuatan tersebut memiliki nilai atau value yang layak untuk dihargai dalam bentuk biaya (rupiah). Seperti layaknya seorang dokter yang memeriksa pasien, kemudian dia melakukan analisa dari gejala dan keluhan yang dialami si pasien, sampai akhirnya si dokter memutuskan bahwa si pasien sakit A dan harus diobati dengan obat B dan C dan akhirnya si pasien sembuh. Atau contoh lain, profesi seorang notaris yang membantu membuatkan surat perjanjian jual beli, seorang manager artis yang mengatur jadwal show clientnya, seorang koki yang memasak sesuai menu pesanan, polantas yang mengatur lalu lintas dll semuanya melakukan perbuatan yang memiliki nilai dan ada biaya yang diberikan sebagai wujud penghargaan terhadap profesi tersebut.

Desainer juga seperti itu. Ketika ada client yang meminta suatu jasa desain, desainer terlebih dahulu mengumpulkan data-data keinginan dari si client. Kemudian melakukan analisa dan membuat konsep  dan implementasi  dari desain tsb. Sampai akhirnya menjadi sebuah karya desain, dan sang client bisa menggunakan desain tersebut.

Sebagai sebuah profesi, desain tidak boleh menjadi gratis. Tetap harus ada harga yang harus dibayar untuk proses kreatif si desainer. Harga yang wajar sesuai dengan skala desain yang diminta sang client.  Jangan seperti isi sebuah spanduk advertising yang memelesetkan salah satu cabang desain yakni "desain grafis" menjadi "desain gratis". Terlepas dari apakah itu cuma slogan marketing atau benar-benar gratis, menurut saya tidak etis jika suatu profesi digratiskan...

Cita rasa Desain


Desain. Sudah lama sekali tidak membahas tentang masalah desain. Lingkungan memang sangat mempengaruhi apa yang kita dapatkan. Pada masa kuliah tiap hari selalu berkutat tentang desain. Baik itu tugas, buku bacaan, ketemu teman kuliah satu jurusan, ketemu dosen desain dll. Bahkan obrolan di kantin pun tak lepas dari urusan desain. Tidak heran bila masalah desain boleh dibilang sudah „nglonthok“, begitu kata orang Jawa.
Tetapi saat ini, hal itu sudah mulai berubah. Teori desain sudah berubah wujud menjadi suatu pengalaman rasa tentang desain. Dunia kerja tidak mengajarkan tentang teori desain. Dunia kerja membuat teori dan landasan pengertian desain yang didapat semasa kuliah semakin diasah lagi. Boleh juga dikatakan : dimatangkan lagi. Matang nya sampai kapan juga tidak bisa diberi ukuran jangka waktu tertentu. Karena proses pematangan ini seperti proses belajar, sampai tua pun proses p\itu tetap berjalan.  Disini memang ada semacam proses lagi yang saya sebut sebagai peningkatan “pengalaman cita rasa desain”. Cita rasa akan semakin terasah ketika bertemu dengan banyak orang, banyak keinginan, banyak saran dan kritikan. Semakin lama kita akan semakin faham tentang desain, bukan melalui teori melainkan melalui pengalaman yang kita rasakan langsung. Cita rasa desain tidak dapat diajarkan tetapi harus  dirasakan sendiri oleh desainer. Kembal lagi lingkungan sangat berpengaruh. Lingkungan dengan cita rasa tinggi tentunya akan membuat cita rasa desainer menjadi tinggi pula. Hal ini tentunya dengan catatan bahwa si desainer benar-benar membuka mata, hati dan telinga tentang lingkungan sekitarnya.
Cita rasa menentukan tinggi rendahnya selera seorang desainer. Cita rasa adalah sebuah pengalaman mistis-metafisis-, tidak bisa diukur, diformulakan dan didefinisikan dalam wujud, kata-kata dan rumus-rumus tertentu tetapi bisa dilihat dan diamati dari karya-karya yang dihasilkan. Pada umumnya tinggi rendahnya cita rasa berbanding lurus dengan pengalaman hidup si desainer. Semakin lama dia ditempa oleh berbagai tantangan desain semakin tinggi cita rasanya.  Semakin tinggi cita rasa semakin fleksibel seorang desainer dalam membuat karya desain maupun memberikan suatu apresasi tentang karya desain.

Senin, 11 Juli 2011

Indonesia surga produsen otomotif dunia

Berita copas dari liputan 6.com. Peluang besar buat para designer otomotif Indonesia?? Kita lihat perkembangannya nanti..

Sejumlah produsen mobil dari Asia, seperti Jepang, Korea dan India mulai bersiap untuk berebut pasar otomotif di Indonesia yang dinilai masih menjanjikan. Mereka menambah investasi untuk menggandakan produksi dan merelokasi pabriknya ke Indonesia.

Suzuki adalah produsen teranyar yang menyatakan komitmennya untuk menambah jumlah investai hingga 80 miliar yen, untuk membangun pabrik baru dan melipatgandakan kapasitas produksi.

Sebelumnya, Nissan, berencana melipatgandakan produksi tahunan di pabriknya di Cikampek, Jawa Barat menjadi 100 ribu unit per tahun September nanti. Ini lebih cepat dari rencana semula pada 2012. Produsen yang juga asal Jepang, juga akan menambah jumlah outletnya pada akhir tahun ini menjadi 52 outlet dari jumlah Maret lalu sebanyak 46 outlet.

Sementara Daihatsu telah mengumumkan pembangunan fasilitas pusat riset dan pengembangan di dekat kawasan pabriknya di Jakarta, yang diharapkan bisa beroperasi pada akhir 2012.

Daihatsu telah merencanakan pengalihan pekerjaan desain atau desain ulang mobil baru dari Jepang yang akan diproduksi di Indonesia. Relokasi ini dimaksudkan agar Daihatsu bisa memproduksi kendaraan yang lebih sesuai dengan tuntutan pasar setempat.

Toyota tak mau ketinggalan. Meski sudah menguasai pasar, Toyota juga sudah memantapkan rencana untuk menanamkan investasi baru senilai 16,5 miliar yen di pabriknya di Karawang. Dana investasi ini akan dialokasikan untuk membantu PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) menaikkan kapasitas produksinya dari 100 ribu unit menjadi 140 ribu unit mobil pada 2013 nanti.

Toyota juga berencana menambah produksi model baru hanya di pabriknya di Indonesia dan merekrut karyawan baru untuk mendukung proses produksi tersebut. Juni 2010 lalu, Toyota juga merelokasi produksi SUV Fortuner dari pabriknya di Samrong, Thailand ke Karawang, Agustus 2010, menyusul krisis politik yang melanda negeri gajah putih itu.

Produsen mobil dari Korea, Hyundai juga telah merencanakan pembangunan pabrik baru di Indonesia pada 2013, untuk mengantisipasi lonjakan permintaan di pasar Indonesia. Meski, masih belum ada penjelasan rinci tentang berapa nilai investasi yang akan ditanamkan.

Hyundai telah menjual sekitar 3.700 unit mobil di Indonesia pada 2010, dan berharap bisa meraih angka penjualan hingga 8.000 unit tahun ini. Saat ini Hyundai telah memiliki pabrik perakitan secara completely knocked-down (CKD) di sekitar Jakarta, yang memproduksi Atoz, Ascent, dan Trajet.

Sementara produsen dari India, Maruti Suzuki dan Tata, tampaknya juga sudah berancang-ancang untuk merebut pasar Indonesia, sambil menunggu momentum free-trade agreement (FTA) yang sudah ditandangani diantara negera-negara ASEAN Agustus 2009 lalu. FTA secara bertahap akan memangkas pajak impor hingga 2016.

Indonesia memang masih menjadi pasar otomotif yang menjanjikan. Ketua III Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Johnny Darmawan, beberapa waktu lalu menyampaikan perkiraan angka penjualan 2011 antara 750.000 unit sampai 800.000 unit. (ihs.com/MLA)

Arti kode Plat Nomor Kendaraan

Banyak pengendara yang happy dengan desain plat nomor polisi yang baru. Per April 2011, dalam rangka penyesuaian digit huruf belakang yang sudah mencapai tiga huruf, Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Metro Jaya memang melakukan terobosan. Dimensi plat nomor polisi kini lebih panjang dan lebih lebar. Huruf dan angkanya pun lebih tegas serta rapi.

Kita memang diwajibkan memasang plat nomor polisi. Namun, semata-mata demi kepentingan administrasi kepolisian-kah keharusan kita menempel plat nomor polisi di depan dan belakang mobil kita? Tidak juga. Sebagai pemilik mobil dan pengendara, kita pun mendapatkan beberapa keuntungan. Minimal, ada 4 informasi yang bisa kita serap dengan melihat plat nomor polisi.

Pertama
, memudahkan kita mengenal dan mengidentifikasi mobil. Seperti kita ketahui, jumlah mobil yang beredar sangat banyak. Sebagai produk massal, tipe, jenis, warna banyak kemiripan. Plat nomor polisi-lah yang membedakan satu mobil dengan mobil lainnya. Keunikan nomor ini berguna bila kita memarkir mobil di tempat umum. Atau, pada saat kita bersengketa dengan pengendara lain di jalan raya. Catat nomor polisi agar kita tetap dapat menemukannya seandainya seseorang yang membuat kita celaka di jalan raya itu melarikan diri.

Kedua, plat nomor polisi dapat membantu kita mengingat-ingat kapan harus memperpanjang Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK). Lihat saja baris kedua yang tertera pada plat tersebut. Di situ tertera bulan dan tahun masa berlaku STNK. Maka, jika sedang membersihkan mobil, baik mencuci maupun sekadar mengeringkan dengan kain lap, sekali-kali perhatikanlah plat nomor polisi di mobil Anda. Barangkali masa berlakunya sudah hampir habis.

Ketiga, huruf awal dapat menginformasikan kita mengenai asal mobil. “B” berarti dari Jakarta, “D” dari Bandung, “F” dari Bogor, dst. Selain menyangkut biaya balik nama jika membeli mobil second dan ingin diubah ke daerah lain, pengetahuan kita mengenai kode asal daerah ini bisa membantu kita memaklumi gaya berkendara seseorang. Misalnya, bila di jalan menemui mobil yang tampak melaju dengan ragu-ragu dan ternyata mobil berkode luar kota, sangat wajar karena mungkin pengendaranya belum hapal jalan.

Keempat, selain yang umum, plat nomor polisi juga diperbolehkan dibuat dengan angka khusus. Tentu harus yang sesuai dengan syarat dan ketentuan yang berlaku. Angka khusus ini bisa mengingatkan kita dengan tanggal-tanggal istimewa yang harus kita kenang. Hari ulang tahun pasangan, tanggal pernikahan, atau mungkin juga hari ulang tahun anak. Sebagian pengendara bahkan percaya dengan angka keberuntungan sehingga plat nomor polisi pun disesuaikan dengan angka tersebut. (http://www.astraworld.com/mla)
Garmin nĂ¼vi 1450LMT 5-Inch Portable GPS Navigator with Lifetime Map & Traffic Updates

Minggu, 03 Juli 2011

Keluargamu keluargaku, keluarga kita...

Berawal dari 2 insan yang mengikat diri menjadi satu ikatan rumah tangga. Akhirnya lahirlah anak-anak mereka, kita sebut generasi pertama. Beberapa waktu kemudian lahirlah generasi ketiga, cucu-cucu mereka. Seterusnya menyusul generasi keempat, kelima dst.

Pada anak turunnya, setiap orang tua pasti punya keinginan dan harapan. Tidak banyak yang diharapkan oleh orang tua kepada anaknya, karena orang tua tidak pernah meminta timbal balik. Seperti penggalan dari lagu kasih ibu yang sebenarnya juga mewakili kasih bapak juga :) yang berbunyi:

"...hanya memberi tak harap kembali
bagai sang surya menyinari dunia.."

Dari harapan yang tidak banyak itu, kalau dari 'my humble opinion' ada 2 yang utama, yaitu anak-anaknya menjadi anak-anak yang berbakti dan anak-anaknya bisa menjaga tali kerukunan, baik pada saat orang tua masih ada dan utamanya ketika orang tua sudah tidak ada.

Kuatnya tali keluarga ini sangat penting. Ikatan terkuat di atas persahabatan adalah tali persaudaraan. Seiring dengan bertambahnya anggota keluarga dan aktivitas kesibukan mencari nafkah membuat antar anggota keluarga jarang bertemu. Jarangnya intensitas pertemuan juga berpengaruh terhadap kuatnya lemahnya tali persaudaraan. Diperlukan suatu wadah yang bisa mengatasi hal ini. Wadah yang bisa 'memaksa' :) para anggota keluarga untuk hadir dan duduk bersama. Ya sebenarnya memaksa bukan kata yang tepat, yang lebih pas mungkin adalah wadah yang bisa memanggil hati nurani kita sebagai satu kesatuan saudara untuk hadir dan duduk bersama.. saling mengenal lebih dekat, saling membaur, saling peduli dan saling-saling lainnya.. Kenapa ada kata saling? Dalam hukum interaksi sosial, 'saling" inilah yang sangat penting. Saling ini berarti ada interaksi 2 arah. Ada saling saling memberi tahu dan ada saling mendengar, ada saling bercerita dan saling diceritai, ada saling terbuka, ada saling memberi perhatian dsb terkecuali satu yang tidak boleh, yaitu saling rasan-rasan..ini biasanya penyakit ibu-ibu akibat polah tingkah bapak-bapak, sehingga menjadi sesuatu yang tidak harmonis dan menjadi tema hangat sebuah gossip :)

Ketika wadah ini sudah terbentuk, yang dibutuhkan kemudian adalah konsisitensi para anggotanya. Umumnya (kalau boleh dikata jeleknya) seiring bertambahnya generasi, ikatan akan sedikit renggang, ya karena faktor diatas tadi, jarang ketemu dan jarang berinteraksi akhirnya berefek pada 'saling' nya pun ikut luntur.. Karena itu satu hal penting juga adalah konsistensi dari masing-masing anggota keluarga. Konsistensi minimal untuk selalu hadir dalam acara keluarga yang diadakan oleh wadah itu. Maksimalnya? Terserah masing-masing anggota, semakin teratur bertemu adalah lebih baik. Ada teori, merusak lebih mudah daripada membangun, menebang lebih mudah daripada menanam. Hanya perlu 1 menit untuk merusak dan perlu bertahun-tahun untuk membangun. Ketidakhadiran yang teratur dari satu anggota keluarga tanpa alasan yang jelas bisa menular kepada yang lain. Jangan sampai hal ini terjadi.

Ikatan tali persaudaraan yang kuat janganlah menjadi sebuah euforia sesaat yang hanya muncul di pertemuan ke 1, 2, 3 saja. Tapi ikatan tsb harus masih dan semakin kuat di pertemuan ke 10, 20, 30...dst. Konsistensi akan menjamin adanya suatu kelanggengan.

Menulis tema ini bukan berarti saya sudah konsisten, tapi ini lebih sebagai sebuah lecutan cambuk bagi saya pribadi untuk menjadi konsisten sebagai anggota keluarga. Bukan bermaksud menggurui, bukan bermaksud merasa lebih tahu.

Semoga bermanfaat.

Kamis, 30 Juni 2011

Apa yang membuat logo efektif?

Artikel dibawah adalah terjemahan suka-suka dari artikel sebelumnya. Disebut suka-suka karena harus disesuaikan dengan lidah orang Indonesia.. supaya isinya lebih mudah dicerna dan difahami. Selamat membaca!


Beberapa prinsip pembuatan logo yang efektif, setidaknya mengikuti beberapa kaidah sbb:

1. Simple/ Sederhana

Logo yang sederhana menjadikannya mudah dikenali, serbaguna dan mudah diingat. Logo yang bagus menampilkan sesuatu yang unik tanpa harus kelihatan berlebihan.

Seorang desainer senior dulu pernah mengenalkan ‘Prinsip KISS’. Yang berarti Keep It Simple, Stupid. Prinsip ini sebenarnya mewakili pertimbangan design yang sangat dalam. Logo yang simple biasanya mudah dikenali, mudah diingat dan paling efektive untuk menyampaikan pesan dari si pemilik logo. Idntitas suatu logo juga harus menarik perhatian atau mudah dikenali oleh mereka yang lalu lalang dengan kecepatan 80-90 km/jam, di dalam rak toko yang berisi bertumpuk-tumpuk packaging, atau di kendaraan yang yang digunakan untuk advertising, marketing dan promosi. Ingatlah, branding logo yang hebat di dunia di kategori sepatu hanyalah berupa grafis sederhana dari bentuk ‘centang’ J


2. Mudah Diingat

Prinsip berikutnya adalah mudah diingat. Logo yang efektif harus mudah diingat, dan ini bisa dicapai melalui bentuk yang simpel dan tepat. Mudah tidaknya logo diingat oleh konsumen, sangat tergantung dari kekhas-an logo tsb. Tidak mudah menciptakan logo yang unik dan khas. Bahkan ketika logo tsb sudah teapt mewakili apa yang ingin disimbolisasikan, tetap saja kekhasan yang menjadi poin utama tidak tercapai. Kedalaman eksplorasi dan pengalaman seorang designer diperlukan untuk membuat logo yang unik dan khas.


3. Langgeng

Logo yang efektif harus bersifat abadi, selama mungkin, tidak termakan oleh waktu. Perlu ditanyakan, apakah logo tersebut masih efektif dalam 10, 20 dan 50 tahun lagi?

Jangan hanya mengikuti trend saja. Biarkan trend untuk industri fashion J. Karena trend datang dan pergi. Tidak masalah jika kita mendesain tentang model jeans, atau baju model baru maka kita mengikuti trend. Tapi jika yang diperhatikan adalah identitas sebuah merk, maka kelanggengan adalah kuncinya.


4. Serbaguna

Logo yang efektif harus bisa diaplikasikan di banyak media. Logo tersebut harus fungsional. Untuk itu logo harus berbentuk vector, sehingga bisa diperbesar hingga tak terhingga. Logo juga harus bisa diaplikasikan secara horizontal maupun vertikal.

Perlu dicek ulang keefektifan logo ketika diaplikasikan sbb:

1. diprint hitam putih?

2. diprint sekecil perangko?

3. diprint sebesar billboard?

4. diprint kebalikannya, yakni di background hitam atau gelap?

Ketika membuat logo ada baiknya mendesignnya dengan warna hitam putih dulu, sehingga kita bisa berfokus pada konsep dan bentuk logo.Satu yang perlu diingat, semakin banyak warna pada logo maka efek jangka panjangnya adalah biaya yang dikeluarkan semakin banyak. Gunakan warna dengan efisien atau bila logo tersebut warna-warni maka siapkan juga versi grayscale atau hitam putihnya. Di dunia printing ada standard warna, pastikan bahwa warna yang dipilih sudah memenuhi kaidah. Di negara kita yang umum dipakai untuk printing adalah warna CMYK dan Pantone. Jadi pastikan logo punya standard warna dari sistem warna tsb.

5. Ketepatan

Logo harus sesuai pada tempatnya, sesuai dengan tujuan perusahaan atau lingkungan tempat logo itu akan berada. Misalnya ketika akan mendesain logo untuk mainan anak-anak, maka sepatutnya kita menggunakan font yang kekanak-kanakan dan warna yang ceria. Berbeda dengan ketika mendesain sebuah perusahaan konstruksi, font , warna dan simbol yang digunakan tentunya lebih serius.

Hal penting yang juga perlu diingat, logo tidak harus mencerminkan secara harfiah bidang bisnis apa, atau produk/jasa apa yang ditawarkan oleh perusahaan tsb. Misalnya perusahaan otomotif tidak harus punya simbol mobil di logonya, perusahaan telekomunikasi tidak perlu ada simbol telepon, dan perusahaan komputer tidak harus ada simbol komputer di logonya. Bisa kita ambil contoh logo dari Honda bukanlah simbol mobil, logo Nokia bukanlah hape, logo Panasonic bukanlah simbol alat elektronik.

Logo intinya adalah sebagai media identifikasi. Logo menyampaikan kualitas dari yang disimbolisasikan. Perusahaan kelas dunia harus punya logo berkualitas yang berkelas dunia juga. Dan logo bukanlah tongkat ajaib, diperlukan faktor-faktor lain agar logo semakin kuat dikenali dan dipercaya oleh konsumen.

Bagaimana konsep logo menurut Anda?

How to write an effective design brief and get design what you want!

How do you get the design you want? The perfect design you envision in your head? … The design brief is the answer.

Whether you are a designer or a client, an effective design brief is the single most critical factor in ensuring that a project is successful.

This article will tell you how to write an effective design brief that will be both beneficial to the client and the designer.

This article will be based from the client’s perspective.

What Is A Design Brief?

First off, you may want to know what a design brief is. A design brief is something that is vital to any design project as it will provide the designer(s) with all the information needed to exceed your expectations.

A design brief should primarily focus on the results and outcomes of the designand the business objectives of the design project. It should not attempt to deal with the aesthetics of design… That is the responsibility of the designer.

The design brief also allows you (the client) to focus on exactly what you want to achieve before any work starts on the project.

A good design brief will ensure that you get a high quality design that meets your needs, providing you have chosen the right designer.

How To Write An Effective Design Brief

If you answer these questions below in an ordered and detailed fashion, your design brief will be 90% done… the other 10% will come from further questions from the designer after you submit your brief.

Have fun answering the questions and remember, provide as much detail as possible! This does not mean one line answers.

What does your business do?

Tip: Never assume that the designer will know anything about your company. Be clear and concise and avoid jargon when replying.

  • What does your company / organisation do?
  • What is your company’s history?

What are the goals? Why?

  • What is the overall goal of the new design project?
  • What are you trying to communicate and why?
  • Are you trying to sell more products or get awareness of your product / service?
  • How do you differ from your competitors?
  • Do you want to completely reinvent yourself or are you simply updating your promotional material?
Tip: You should also provide old promotional material to assist the designer.

Who is the target market?

  • What are your target market’s demographics & phychographics? ie. the age, gender, income, tastes, views, attitudes, employment, geography, lifestyle of those you want to reach.

Tip: If you have multiple audiences, rank them in terms of importance.

What copy (text) and pictures are needed?

Tip: The copy and pictures used in a design are as crucial as the design itself and you should clearly state who is going to be providing the copy and pictures if needed. You may need to look into getting a professional copywriter / photographer – ask your designer for some recommendations.

  • What copy needs to be included in the design? Who is providing the copy?
  • What pictures / photographs / diagrams etc need to be used? Who is providing these?

What are the specifications?

  • What size is the design going to be?
  • Where is it going to be printed / used? The web, business cards, stationery, on your car?
  • What other information should the designer know in regards to specifications?

Have you got a benchmark in mind?

  • You should provide the designer with some examples of what you consider to be effective or relevant design even if it is from your main competitors. This will set a benchmark for your designer.
  • Provide the designer with things not to do, and styles that you do not like or wish to see in your design. This will give the designer an idea of what to avoid and will avoid disappointment on your behalf.

What Is Your Budget?

  • Providing a budget prevents designers wasting valuable time and resources when trying to maximise your budget.
  • Providing the budget upfront also allows designers to know if the project is going to be worthwhile to complete. Make sure you are worth their time.

What is the time scale / deadline?

  • Give the designer a detailed schedule of the project and set a realistic deadline for the completion of the work. You should take into account the various stages of the design project such as consultation, concept development, production and delivery.

Tip: Rushing design jobs helps no one and mistakes can be made if a complex job is pushed through without time to review, however, there are times when a rush job is needed, and in these cases you should be honest and upfront about it.

Tips For The Designer

As a designer it is important to have a template such as this one to give to clients as clients will not always come to you with a design brief – feel free to use this one as you please. By having a template ready, it shows them your professionalism and ultimately saves them (and you) a lot of time and money.

What makes a good logo?

What makes a good logo? A good logo is distinctive, appropriate, practical, graphic, simple in form and conveys an intended message.

There are five principles that you should follow to ensure that this is so…

An effective logo is (in no particular order):

· Simple

· Memorable

· Timeless

· Versatile

· Appropriate

1. Simple

A simple logo design allows for easy recognition and allows the logo to be versatile & memorable. Good logos feature something unique without being overdrawn.

While in college in the mid-70’s an instructor introduced me to the K.I.S.S. Principle of design; which translates to: Keep It Simple, Stupid. It does convey a very important design consideration. Simple logos are often easily recognized, incredibly memorable and the most effective in conveying the requirements of the client. A refined and distilled identity will also catch the attention of a viewer zipping by signage at 70 miles per hour, on packaging on the crowded shelves of a store, or in any other vehicle used for advertising, marketing and promotion. Remember, the basis of the hugely effective international branding for the world’s largest shoe manufacturer is a very simple graphic swoosh.

~ Jeff Fisher

2. Memorable

Following closely behind the principle of simplicity, is that of memorability. An effective logo design should be memorable and this is achieved by having a simple, yet, appropriate logo.

You may be interested to see some examples of bad logo designs.

Surprising to many, the subject matter of a logo is of relatively little importance, and even appropriateness of content does not always play a significant role.

This does not imply that appropriateness is undesirable. It merely indicates that a one-to-one relationship between a symbol and what it symbolized is very often impossible to achieve and, under certain conditions, objectionable. Ultimately, the only mandate in the design of logos, it seems, is that they be distinctive, memorable, and clear.

~ Paul Rand

3. Timeless

An effective logo should be timeless – that is, it will endure the ages. Will the logo still be effective in 10, 20, 50 years?

Leave trends to the fashion industry – Trends come and go, and when you’re talking about changing a pair of jeans, or buying a new dress, that’s fine, but where your brand identity is concerned, longevity is key. Don’t follow the pack. Stand out.

~ David Airey

Probably the best example of a timeless logo is the Coca-Cola logo… if you compare it to the Pepsi logo below, you can see just how effective creating a timeless logo can be. Notice how the Coca Cola logo has barely changed since 1885? That is timeless design.

Update: 8/08/09 – Underconsideration has posted an updated timeline of the Pepsi vs CocaCola logo. Thanks for the tip off Jon.

4. Versatile

An effective logo should be able to work across a variety of mediums and applications. The logo should be functional. For this reason a logo should be designed in vector format, to ensure that it can be scaled to any size. The logo should be able to work both in horizontal and vertical formats.

Ask yourself; is a logo still effective if:

· Printed in one colour?

· Printed on the something the size of a postage stamp?

· Printed on something as large as a billboard?

· Printed in reverse (ie. light logo on dark background)

One way around creating a versatile logo is to begin designing in black and white only. This allows one to focus on the concept and shape, rather than the subjective nature of colour. One must also remember printing costs – the more colors used, the more expensive it will be for the business over the long term.

I like to work first in black and white to ensure that the logo will look good in its simplest form. Color is very subjective and emotional. This can distract from the overall design – say if you saw your logo in all red, that color may be the first thing that you respond to and not the composition of the design elements. I will not even consider submitting color suggestions to a client for review until they have signed off on a final black and white logo.

~ Patrick Winfield

One should also familiarise themself with the commercial printing process so as not to come into printing problems further down the track. Learn to know the difference between the CMYK, Pantone and RGB color systems. When designing logos, the Pantone colour system is recommended.

5. Appropriate

How you position the logo should be appropriate for its intended purpose. For example, if you are designing a logo for children’s toys store, it would be appropriate to use a childish font & colour scheme. This would not be so appropriate for a law firm.

It is also important to state that that a logo doesn’t need to show what a business sells or offers as a service. ie. Car logos don’t need to show cars, computer logos don’t need to show computers. The Harley Davidson logo isn’t a motorcycle, nor is the Nokia logo a mobile phone. A logo is purely for identification.

For further evidence of this, take the top 50 brands of the world – 94% of the logos do not describe what the company does.

Paul Rand also has a say on this topic:

Should a logo be self-explanatory? It is only by association with a product, a service, a business, or a corporation that a logo takes on any real meaning. A logo derives its meaning and usefulness from the quality of that which it symbolizes. If a company is second rate, the logo will eventually be perceived as second rate. It is foolhardy to believe that a logo will do its job immediately, before an audience has been properly conditioned.

~ Paul Rand

What makes a great logo in your opinion?

www.justreativedesign.com